<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hari AIDS Sedunia 2009</title>
	<atom:link href="http://www.has2009.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.has2009.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Dec 2009 04:47:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pebisnis Peduli HIV/AIDS</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/pebisnis-peduli-hivaids/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/pebisnis-peduli-hivaids/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 03:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Sinar Harapan, December 3, 2009
Jakarta &#8211; Salah satu pencegahan penyebaran HIV/AIDS adalah dengan menggerakkan sektor bisnis untuk ikut bertanggung jawab dan bertindak dalam memberantasan HIV/AIDS.
Bisnis dapat melakukan berbagai hal dengan cepat dan efektif, serta berdampak luas bagi masyarakat.
Hal ini menjadi benang merah seminar sehari “Bisnis bersatu menanggulangi HIV dan AIDS di tempat kerja” di Jakarta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sinar Harapan, December 3, 2009</p>
<p>Jakarta &#8211; Salah satu pencegahan penyebaran HIV/AIDS adalah dengan menggerakkan sektor bisnis untuk ikut bertanggung jawab dan bertindak dalam memberantasan HIV/AIDS.</p>
<p>Bisnis dapat melakukan berbagai hal dengan cepat dan efektif, serta berdampak luas bagi masyarakat.</p>
<p>Hal ini menjadi benang merah seminar sehari “Bisnis bersatu menanggulangi HIV dan AIDS di tempat kerja” di Jakarta, Rabu, (2/12). Seminar sehari yang diadakan Indonesian Business Coalition on Aids (IBCA) ini ingin mengangkat berbagai program para pebisnis dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS.</p>
<p>Program pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja, meliputi edukasi HIV/AIDS secara rutin melalui pelatihan, orientasi, penyuluhan dan pembentukan kelompok pendukung di tempat kerja. Selain itu, juga dengan menyediakan kondom, menciptakan lapangan pekerjaan dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab, menyediakan klinik atau rujukan untuk infeksi menular seksual, konseling dan tes HIV sukarela. Juga implementasi kebijakan antidiskriminasi terhadap penderita HIV dan AIDS.</p>
<p>Peranan pebisnis atau perusahaan dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS telah diatur dalam Organisasi Buruh Internasional (ILO) code of practice on HIV and AIDS and the world of work, kesepakatan Tripartit nasional, deklarasi ASEAN dan Surat Keputusan (SK) Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) No 68/MEN/IV/2004 tentang Komitmen Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja. Dalam SK Menakertrans tahun 2004 ini, telah ditetapkan bahwa perusahaan wajib melakukan upaya pencegahan HIV dan AIDS di tempat kerja.</p>
<p>Saat jumpa pers, Menakertrans Muhaimin Iskandar menyambut baik sikap para pebisnis untuk peduli dalam pencegahan penyebaran HIV/AIDS. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan berperan dalam pencegahan penyebaran HIV/AIDS?” cetusnya.</p>
<p>Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular (PPM) dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan (Depkes) Prof Dr Umar Fahmi Achmadi, MPH mengungkapkan, dari tahun 1987 sampai September 2009, tercatat ada 18.442 kasus AIDS. Tahun 2009, dalam sembilan bulan saja, ditemukan 2.332 kasus AIDS. Data ini hanya mengungkapkan yang tercatat saja. Depkes memperkirakan, sekitar 270.000 penduduk Indonesia telah tertular HIV/AIDS, di mana 90 persen penderitanya pada usia produktif dan tersebar di berbagai tempat pekerjaan.</p>
<p>Jika intervensi yang intensif tidak dilakukan, ­diper­kirakan total kumulatif infeksi baru HIV dapat mencapai 1,7 juta orang pada 2020. Semua pihak, termasuk sektor bisnis, ikut bertanggung jawab dalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS.</p>
<p>IBCA telah berupaya membangun kapasitas perusahaan dalam membuat kebijakan antidiskriminasi dan stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS. (heru guntoro)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/pebisnis-peduli-hivaids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Epidemi HIV Indonesia Tercepat di Asia</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/epidemi-hiv-indonesia-tercepat-di-asia/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/epidemi-hiv-indonesia-tercepat-di-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 04:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Seputar Indonesia. December 2, 2009
JAKARTA (SI) – Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan laju epidemi HIV tercepat di Asia.
Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, menurut WHO, wilayah Asia-Pasifik memikul beban terberat kedua setelah Afrika,dengan perkiraan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sebesar 4,9 juta dan 95% di antaranya berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seputar Indonesia. December 2, 2009</p>
<p>JAKARTA (SI) – Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan laju epidemi HIV tercepat di Asia.</p>
<p>Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, menurut WHO, wilayah Asia-Pasifik memikul beban terberat kedua setelah Afrika,dengan perkiraan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sebesar 4,9 juta dan 95% di antaranya berada di 9 negara Asia,yaitu Kamboja,China, India, Indonesia,Myanmar, Nepal, Papua New Guinea (PNG), Thailand, dan Vietnam. “Laju epidemi HIV di Indonesia saat ini dinyatakan sebagai the fastest growing epidemic in Asia oleh WHO dan UNAIDS,” ungkap Endang saat menghadiri acara Penggalangan Dana ”Wine, Dine, and Charity Auction” Yayasan AIDS Indonesia di Jakarta kemarin.</p>
<p>Bukan hanya Indonesia, ujar dia, beberapa negara di dunia pun mengkhawatirkan perkembangan infeksi virus mematikan ini. Di beberapa negara lain, laju infeksi HIV pun masih terus meningkat.Di antaranya di Jerman, Mozambique, Rusia, Ukraina, dan Inggris. ”Sementara itu, prevalensi HIV juga masih sangat tinggi di Lesotho, Namibia, Afrika Selatan, dan Swaziland,”ujarnya.</p>
<p>Menkes mengatakan, ada kekhawatiran tingginya laju endemi HIV ini akan menambah jumlah penduduk miskin di dunia menjadi 6 juta kepala keluarga sampai dengan tahun 2015.Apalagi, ujar dia, jika upaya pengendalian oleh masing-masing negara tidak segera diperkuat.Atas kondisi ini,ujar Endang, Pemerintah Indonesia telah menyatakan HIV/AIDS sebagai salah satu pandemi global dengan berbagai dampak yang merugikan.</p>
<p>Sebelumnya, Menko Kesra Agung Laksono menegaskan,pekan kondom nasional (PKN) sebagai bagian dari peringatan HAS bukan ajang pembenaran terhadap perilaku seks bebas.Karena itu,dibutuhkan pemahaman yang benar mengenai manfaat penggunaan kondom. Agung berharap,para pemuka agama dan tokoh masyarakat dapat memisahkan antara penggunaan kondom sebagai alat pelindung dengan perilaku seks bebas. (rendra hanggara)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/epidemi-hiv-indonesia-tercepat-di-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jarum Suntik Pemicu Utama AIDS</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/jarum-suntik-pemicu-utama-aids/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/jarum-suntik-pemicu-utama-aids/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 04:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Seputar Indonesia, December 2, 2009
JAKARTA (SI) – Jarum suntik masih menempati tempat tertinggi penyebab penyebaran kasus HIV/ AIDS di Jakarta.Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM dan PL) Departemen Kesehatan RI, dari 2810 kasus yang ada di DKI Jakarta 71,1% akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian, sedangkan 23% akibat hubungan seksual [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seputar Indonesia, December 2, 2009</p>
<p>JAKARTA (SI) – Jarum suntik masih menempati tempat tertinggi penyebab penyebaran kasus HIV/ AIDS di Jakarta.Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM dan PL) Departemen Kesehatan RI, dari 2810 kasus yang ada di DKI Jakarta 71,1% akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian, sedangkan 23% akibat hubungan seksual dan bawaan lahir.</p>
<p>Sementara itu, korban meninggal mencapai 425 orang.Proporsi kasus tertinggi terdapat pada kelompok umur produktif 20-29 tahun (50,07%). Deputi Gubernur Bidang Kependudukan dan Pemukiman DKI Jakarta Margani Mustar mengatakan, untuk mengurangi laju penderita penyakit menular ini maka pemprov akan membangun lima Pusat Terapi Rumatan Methadone (PTRM) tambahan untuk terapi narkotika jenis opiad.</p>
<p>Kelimanya, yakni PTRM Johar Baru, PTRM RSUD Duren Sawit,PTRM RSUD Koja dan PTRM di Lapas Klas I Cipinang dan Rutan Klas I Jakarta Pusat Sejak 2006 lalu, terdapat 15 PTRM yang ada di seluruh wilayah DKI Jakarta, yaitu 11 klinik di puskesmas, 2 klinik di lapas atau rutan (Lapas Narkotika Cipinang dan Rutan Klas II Jaktim) dan 2 rumah sakit (RSKO Cibubur dan RS Fatmawati).“Setiap satu PTRM dapat merawat hingga 80-150 orang,” jelasnya di Pencanangan Hari AIDS Sedunia di Puskesmas Tanjung Priok,Jakarta Utara kemarin.</p>
<p>CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Veronica Colondam berkomentar, cara yang lebih baik untuk menangani AIDS di Jakarta adalah pencegahan. Menurutnya, perlu dikembangkan program- program yang berdasarkan konsep Primary Prevention School Programme (Program Pencegahan Primer di Sekolah).Program semacam itu memiliki tujuan untuk menyadarkan para remaja usia sekolah agar berperilaku hidup bersih dan sehat dengan menghindari narkoba dan seks bebas.</p>
<p>Sementara itu, Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Depok, Ani Rubiani mengatakan tahun ini jumlah penderita AIDS di Kota Depok bertambah satu orang. Dengan begitu, total penderita HIV / AIDS di Kota Depok sejak tahun 2000 berjumlah 138 orang. “Kami terima laporannya dari RS Simpangan,”ungkap Ani. Dia menandaskan, dari 138 orang penderita HIV / AIDS, sebagian besar terindikasi berada di Kecamatan Kemiri Muka dan Sukmajaya. Sebelumnya, kata Ani, Dinkes juga menerima laporan adanya lima warga Kota Depok teridentifikasi mengidap HIV / AIDS tahun ini.</p>
<p>Dari lima warga tersebut tiga di antaranya,positif mengidap AIDS. Sementara itu,dua lainnya teridentifikasi HIV positif. “Tapi setelah diidentifikasi ternyata pasien lama,”katanya kemarin. Ironisnya, meski sudah teridentifikasi HIV positif, para penderita tersebut masih bebas berkeliaran. Pasalnya, para pasien tidak langsung dirawat atau dikarantina di rumah sakit.</p>
<p>“Memang seperti itu, pasien HIV tidak dirawat. Kedatangan mereka ke rumah sakit tersebut, bukan untuk merawat HIV mereka, tapi mereka berobat penyakit lainnya,”papar Ani. (neneng z/a fajrihidayat)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/jarum-suntik-pemicu-utama-aids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WHO Siapkan Pencegahan AIDS</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/who-siapkan-pencegahan-aids/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/who-siapkan-pencegahan-aids/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 04:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Seputar Indonesia, December 2, 2009
JENEWA(SI) – Bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia kemarin Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan,telah menyiapkan sejumlah tindakan preventif untuk mengurangi angka penularan AIDS.
Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember merupakan bentuk keprihatinan dan solidaritas masyarakat dunia atas penyakit acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Selama bertahun-tahun WHO dan The Joint United Nations [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seputar Indonesia, December 2, 2009</p>
<p>JENEWA(SI) – Bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia kemarin Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan,telah menyiapkan sejumlah tindakan preventif untuk mengurangi angka penularan AIDS.</p>
<p>Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember merupakan bentuk keprihatinan dan solidaritas masyarakat dunia atas penyakit acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Selama bertahun-tahun WHO dan The Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAID) tetap gencar melancarkan program pencegahan penularan human immunodeficiency virus(HIV). Penyuluhan, terapi obat-obatan, dan berbagai seminar telah dilaksanakan. Kini masyarakat dunia–terlebih WHO dan UNAID–memetik hasilnya.Pekan lalu UNAID memberikan laporan bahwa jumlah penderita HIV/ AIDS telah berkurang sebanyak 17% dalam kurun delapan tahun terakhir.</p>
<p>Laporan ini tentunya melegakan banyak pihak yang selama ini menaruh perhatian besar pada wabah HIV/AIDS. Namun, WHO tidak mau terbang tinggi. Mereka menyatakan, akan terus mencanangkan program baru dan memberikan penyuluhan agar masyarakat semakin melek AIDS. Senin (30/11) WHO mengemukakan beberapa saran yang patut dicermati para pengidap HIV/ AIDS stadium awal. Dalam anjurannya, WHO mengingatkan agar masyarakat usia dewasa dan remaja yang tertular AIDS segera melakukan terapi antiretroviral (ARV).</p>
<p>Jika sistem kekebalan tubuh seorang penderita AIDS menurun drastis sebanyak 350 sel/mm3 darah maka orang tersebut harus secepatnya disuntik ART.Acuan angka kekebalan tubuh WHO yang terbaru ini berbeda dari 2006 lalu. Tiga tahun lampau WHO menetapkan angka 200 sel/mm3 sebagai batas yang mengharuskan seseorang menerima ARV. “Rekomendasi level kekebalan tubuh ini didasarkan pada data terbaru yang diperoleh WHO,”ujar Asisten Direktur WHO Bidang HIV/AIDS, tuberkolusis, malaria, dan demam tropis, Hiroki Nakatani.</p>
<p>Nakatani menambahkan, ketetapan terbaru WHO ini dimaksudkan agar semakin banyak orang yang mampu bertahan hidup lebih lama dan terjaga kesehatannya. Selain itu, pihaknya menganjurkan agar wanita hamil yang telah terindikasi mengidap HIV/AIDS agar segera melakukan terapi obatobatan ARV. ARV hendaknya dilakukan ketika usia kehamilan memasuki usia 14 pekan dan terus berlangsung selama proses menyusui. “ARV mampu mencegah transmisi virus ketika seorang ibu pengidap HIV/AIDS menyusui bayinya,”ujar juru bicara WHO.</p>
<p>Peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh kemarin juga menyisakan kisah mengharukan yang datang dari Negeri Tirai Bambu, China. Sebuah panti asuhan di pusat Kota Fuyang,Provinsi Anhui, merawat sejumlah anak yatim piatu yang mengidap HIV positif. Sekilas rumah berlantai dua ini tampak serupa dengan gedunggedung di kanan-kirinya.Namun, tidak seperti panti asuhan pada umumnya,rumah ini tidak menyertakan papan nama di bagian depan bangunannya.</p>
<p>Panti asuhan khusus anak-anak penderita AIDS ini didirikan organisasi non-pemerintah bernama Fuyang AIDS Orphan Salvation Association (FAOSA). Selama ini, FAOSA setia mengusahakan penyediaan makanan bergizi, edukasi, dan obat-obatan yang dibutuhkan anak-anak yatim piatu yang mengidap HIV/AIDS. Di tempat inilah anak-anak yang dibuang keluarganya kembali merasakan kasih sayang yang sempat hilang dari kehidupan mereka. Kini mereka dapat bermain seperti anak-anak seusianya dan dapat menikmati kehidupan tanpa cercaan dan pandangan miring masyarakat luar.<br />
“Saat ini anak-anak kami sudah mampu membangun pikiranpikiran yang sehat.Ketika pertama kali datang kemari mereka tampak ketakutan dan seperti kehilangan harga diri,” papar Direktur FAOSA ZhangYing kepadaReuters. Zhang Ying dan FAOSA telah mengubah kesuraman anak-anak pengidap AIDS menjadi hari-hari yang dipenuhi keceriaan.</p>
<p>Kini mereka tidak akan menerima diskriminasi dari masyarakat sekitar. Saat ini anak-anak tersebut berada dalam perlindungan orang-orang yang sangat mengasihi mereka. (AFP/BBC/Reuters/The Washington Post/anastasia ika)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/who-siapkan-pencegahan-aids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerintah tidak Serius Tangani HIV/AIDS</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/pemerintah-tidak-serius-tangani-hivaids/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/pemerintah-tidak-serius-tangani-hivaids/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 04:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Media Indonesia, December 2, 2009
BERDASARKAN data dari Departemen Kesehatan (Depkes), sampai 30 September 2009 kasus HIV/AIDS di Indonesia secara kumulatif mencapai 18.442 kasus dengan rincian 13.654 pria, 4.701 perempuan, dan 87 tidak diketahui.
Jumlah itu meningkat tajam jika dibandingkan dengan data per Maret 2008 yang mencatat 11.868 kasus HIV/AIDS terdiri dari 9.337 pria, 2.466 perempuan, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Media Indonesia, December 2, 2009</p>
<p>BERDASARKAN data dari Departemen Kesehatan (Depkes), sampai 30 September 2009 kasus HIV/AIDS di Indonesia secara kumulatif mencapai 18.442 kasus dengan rincian 13.654 pria, 4.701 perempuan, dan 87 tidak diketahui.</p>
<p>Jumlah itu meningkat tajam jika dibandingkan dengan data per Maret 2008 yang mencatat 11.868 kasus HIV/AIDS terdiri dari 9.337 pria, 2.466 perempuan, dan 65 tidak diketahui.</p>
<p>Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboy menengarai terdapat 298 ribu orang Indonesia hidup dengan HIV/AIDS, lantaran yang dilaporkan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kondisi riilnya. &#8220;Penyebaran kasus HIV/AIDS kini bahkan telah masuk ke ranah rumah tangga,&#8221; lapor Nafsiah, seusai peresmian Pekan Kondom Nasional 2009 (30/11).</p>
<p>Melihat terus meningkatnya kasus HIV/AIDS itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai pemerintah kurang serius menanggulangi kasus HIV/AIDS.</p>
<p>Ketua KPAI Hadi Supeno mengatakan, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina, Indonesia jauh tertinggal. Pasalnya, pada ketiga negara itu, dalam tiga tahun terakhir jumlah penderita HIV/ AIDS-nya terus menurun.</p>
<p>Jika pada 2004 baru 150 anak yang terpapar HIV/AIDS, dalam lima tahun terakhir kasus pada anak meningkat hingga 400%. &#8220;Sekarang anak-anak yang terkena HIV ada 655 anak.</p>
<p>Mereka tersebar di Jawa Barat, DKI, Papua, Bali, dan Jawa Timur,&#8221; ungkap Hadi dalam siaran persnya menyambut Hari AIDS Sedunia, kemarin.</p>
<p>Terkait itu, Nafsiah mengakui, masih tingginya sebaran HIV/AIDS lantaran pemerintah gagal menyosialisasikan penggunaan kondom.</p>
<p>Pasalnya, tren penularan kini tidak lagi lewat jarum suntik, melainkan akibat hubungan seksual.</p>
<p>Dirjen Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama berkomentar, guna menjaring penderita HIV yang belum terdeteksi, pemerintah memakai strategi voluntary counseling and testing (VCT) dengan lebih giat. &#8220;Dinas kesehatan mewajibkan tes HIV kepada semua orang dengan perilaku berisiko tinggi,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Jawa Barat tertinggi Lebih jauh, ungkap Tjandra, kasus HIV/AIDS kini telah terjadi di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Kasus HIV/ AIDS terbanyak tahun ini di Jabar (lihat grafis).</p>
<p>Kepala Dinas Kesehatan Jabar Alma Lucyati mengatakan jumlah penderita atau ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di wilayahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. &#8220;Ini sudah melampaui Papua yang tahun lalu sebagai daerah dengan jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia.&#8221;</p>
<p>Ia menegaskan, fenomena gunung es penyakit HIV/AIDS mengancam Jabar jika pencegahan virus tersebut tidak dilakukan secara terus-menerus.</p>
<p>Pada bagian lain, Hari AIDS Sedunia, kemarin, diperingati sejumlah elemen masyarakat di beberapa daerah dengan menyuarakan gerakan bersama penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS.(Tim/S-3)<br />
cornelius@mediaindonesia.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/pemerintah-tidak-serius-tangani-hivaids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hentikan Diskriminasi terhadap Pengidap HIV/AIDS</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/hentikan-diskriminasi-terhadap-pengidap-hivaids/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/hentikan-diskriminasi-terhadap-pengidap-hivaids/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 04:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Kompas, December 2, 2009
Yogyakarta, Kompas &#8211; Ratusan orang dari lembaga swadaya masyarakat dan pemerhati masalah HIV/AIDS di Yogyakarta, Selasa (1/12), berunjuk rasa meminta diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS segera dihilangkan. Mereka menilai diskriminasi di masyarakat masih cukup tinggi.
Menurut pengunjuk rasa, HIV/AIDS sama dengan penyakit lainnya sehingga tidak perlu ada pembedaan terhadap pengidap. Penyakit ini juga bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompas, December 2, 2009</p>
<p>Yogyakarta, Kompas &#8211; Ratusan orang dari lembaga swadaya masyarakat dan pemerhati masalah HIV/AIDS di Yogyakarta, Selasa (1/12), berunjuk rasa meminta diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS segera dihilangkan. Mereka menilai diskriminasi di masyarakat masih cukup tinggi.</p>
<p>Menurut pengunjuk rasa, HIV/AIDS sama dengan penyakit lainnya sehingga tidak perlu ada pembedaan terhadap pengidap. Penyakit ini juga bisa menyerang semua orang, termasuk ibu rumah tangga baik-baik dan anak mereka. Diskriminasi tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah akan menambah beban pengidap.</p>
<p>”Mengapa terjadi diskriminasi? Karena masih kuatnya stereotip di masyarakat bahwa penyakit itu terjadi akibat perilaku menyimpang yang dilakukan orang-orang yang ’tidak baik’,” kata Istikomah dari Institut Hak Asasi Perempuan Yogyakarta, salah satu LSM yang ikut dalam aksi unjuk rasa.</p>
<p>Di Surabaya, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, pengidap AIDS di Jawa Timur paling banyak tertular lewat jarum suntik yang digunakan bersama oleh pemakai narkotik. Banyak pengidap yang masih dalam usia produktif.</p>
<p>Saifullah Yusuf mengatakan, pemberantasan penggunaan narkotik suntik menjadi prioritas. ”Pemprov menyediakan Rp 10 miliar untuk pencegahan penularan lewat jarum suntik,” kata Saifullah, saat meninjau pasien pengidap AIDS di RSU Dr Soetomo, Surabaya.</p>
<p>Pemprov Jatim juga mencatat, 42 persen pengidap saat ini ada di usia produktif mulai dari 20 tahun hingga 29 tahun. Hal itu berdampak pada produktivitas mereka.</p>
<p>Selain itu, sebagian masyarakat masih menjauhi pengidap HIV/AIDS. Akibatnya, pengidap tidak bisa bekerja lagi. ”Kemampuan mereka bagus,tetapi terhambat stigma,” ujarnya.</p>
<p>Pemprov Jatim juga mendorong rumah sakit kabupaten/kota ikut merawat pengidap HIV/AIDS. Hal itu untuk mendekatkan pusat perawatan dengan pengidap. ”Saat ini harapan hidup pengidap bisa diperpanjang asal rutin meminum obat. Bukan AIDS yang menyebabkan kematian, tetapi penyakit yang menyerang karena kekebalan tubuh pengidap menurun,” ujarnya.</p>
<p>Akses sosial dibuka</p>
<p>Di Malang, Jawa Timur, sekitar 100 aktivis peduli pengidap HIV/AIDS menuntut dihilangkannya stigma negatif atas orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta diberikannya akses sosial yang sama kepada mereka. ”Banyak ODHA meninggal justru karena tidak punya akses sosial atau dikucilkan dan didiskriminasi di semua hal. Meski kondisi fisik ODHA terus dijaga dengan obat-obatan, kalau kondisi mentalnya dilemahkan dengan pengucilan dan diskriminasi, sama saja pengobatan itu tidak ada gunanya,” kata Ketua Ikatan Waria Malang Merlyn Shopjan di tengah aksi memperingati Hari AIDS Sedunia di depan Balaikota Malang. Peringatan Hari AIDS Sedunia juga dilakukan di kota-kota lain, seperti di Solo, Tegal, Banyumas, Bandung, dan Jakarta.(DIA/RAZ/WER/WIE/EKI/HAN/CHE/INE)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/hentikan-diskriminasi-terhadap-pengidap-hivaids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HIV/AIDS Patients Complain Discrimination in Indonesia</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/hivaids-patients-complain-discrimination-in-indonesia/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/hivaids-patients-complain-discrimination-in-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 03:57:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[The Jakarta Globe, December 2, 2009
Ignorance of HIV/AIDS and discrimination against those who live with it apparently runs high in Indonesia, a country with one of the fastest-growing HIV infection rates in the region.
A 30-year-old woman living with HIV, identified as LD, told the Jakarta Globe that health workers in a Central Jakarta hospital had [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Jakarta Globe, December 2, 2009</p>
<p>Ignorance of HIV/AIDS and discrimination against those who live with it apparently runs high in Indonesia, a country with one of the fastest-growing HIV infection rates in the region.</p>
<p>A 30-year-old woman living with HIV, identified as LD, told the Jakarta Globe that health workers in a Central Jakarta hospital had told her that she had to have a tubectomy, a surgical procedure for permanent female contraception.</p>
<p>“The doctor was forcing me to undergo a tubectomy just because I am an HIV-positive person,” LD said. “And I am very disappointed as it is one of the referral hospitals where people like me should be treated well and equally.”</p>
<p>She sought a second opinion in a North Jakarta hospital, but was told the same thing.</p>
<p>“I feel like they are violating my reproductive rights by forcing me,” she said.</p>
<p>She eventually found a government hospital in Central Jakarta where doctors gave her other options.</p>
<p>In 2008, LD was in hospital undergoing a caesarian birth, which significantly reduces the risk of mother-to-child infection compared to conventional delivery.</p>
<p>But she said her baby’s crib was labeled “HIV Positive Baby” as soon as her child was born.</p>
<p>“After they tested the baby, my baby was negative,” she said, adding that her child remains free from the virus to date.</p>
<p>LD added that she was kept away from her child. “I wanted my baby beside me as a mother. I had the right to see her, but they did not allow me as she was ‘under doctor surveillance,’?” she said.</p>
<p>She then described how the doctors wrote her a prescription to stop her from producing milk. “I would not do harm to my baby,” she said, adding that she was aware of the increased risk of passing on the infection by breast feeding.</p>
<p>Dini, who is also HIV positive, said she was rejected at one of the referral hospitals in East Jakarta when she fell ill.</p>
<p>“I am deeply concerned that our health officers stigmatize us,” Dini said.</p>
<p>Hariadi Wisnu Wardana from the Health Ministry AIDS subdirectorate said that such cases did not reflect government policy.</p>
<p>“A mother with HIV/AIDS can become pregnant as long as she can take care of herself. Tubectomy is not a [required] procedure and rejecting a patient, whatever the disease, is never acceptable,” Wardana said.</p>
<p>“However, I should admit that we do have some officials like that,” he said, adding that the government was improving communication with hospitals to ensure patients received better treatment.</p>
<p>Rohana Manggala, the head of the Commission on HIV/AIDS Prevention Jakarta (KPA), said access to health care of people living with HIV should be guaranteed.</p>
<p>“Removing their right to access health care risks spreading infections,” Manggala said.</p>
<p>She said based on the Asian Epidemic Model, there would be 60,150 new cases in 2010 if there was no behavior change, which includes access to health services. “We have to work fast to curb the disease,” she said.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/hivaids-patients-complain-discrimination-in-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hantu Gunung Es HIV/AIDS</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/hantu-gunung-es-hivaids/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/hantu-gunung-es-hivaids/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 08:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Jawa Pos, Desember 1, 2009
Opini : Renungan Hari AIDS Dunia 2009
Oleh: dr Sugiharto MARS
Membicarakan HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus &#8211; Acquired Immunodeficiency Syndrome) tidak akan bergema bila kita tidak memperhatikan angka-angkanya yang mencengangkan dan memprihatinkan. Sampai 31 Maret 2008 Departemen Kesehatan (Depkes) RI mencatat secara kumulatif 11.868 kasus AIDS terjadi di 32 provinsi dan 194 kabupaten/kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jawa Pos, Desember 1, 2009<br />
Opini : Renungan Hari AIDS Dunia 2009</p>
<p>Oleh: dr Sugiharto MARS<br />
Membicarakan HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus &#8211; Acquired Immunodeficiency Syndrome) tidak akan bergema bila kita tidak memperhatikan angka-angkanya yang mencengangkan dan memprihatinkan. Sampai 31 Maret 2008 Departemen Kesehatan (Depkes) RI mencatat secara kumulatif 11.868 kasus AIDS terjadi di 32 provinsi dan 194 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Depkes RI dr Iwan M. Mul/jono MPH, menyebut angka 18.442 per September 2009 dalam Seminar Nasional HIV-AIDS di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada 30 November 2009.</p>
<p>Secara gamblang, angka-angka di atas dapat ditafsirkan bahwa sampai saat ini satu di antara kira-kira 12.500 orang di Indonesia adalah penderita AIDS! Kalau kita tidak segera terus-menerus berupaya menekannya, bukan mustahil orang-orang terdekat yang kita sayangi ternyata juga penderita AIDS.</p>
<p>Lima besar provinsi yang memiliki penderita AIDS kumulatif terbanyak dalam kurun 1987 &#8211; September 2009 berturut-turut adalah Jawa Barat (3.233), Jawa Timur (3.133), DKI Jakarta (2.811), Papua (2.681), dan Bali (1.506). Untuk Jawa Timur, Kota Surabaya dan Malang menduduki tempat teratas.</p>
<p>Perlu diingat, angka-angka itu hanyalah yang tercatat sudah terkena AIDS. Fenomena gunung es tetap menghantui. Berapa banyak di masyarakat kita yang terkena AIDS tapi tidak tercatat? Lebih dahsyat lagi, berapa banyak yang sudah terkena HIV tapi tidak tercatat? Wallahualam.</p>
<p>Akses dan Hak Asasi</p>
<p>Tahun ini dunia memperingati Hari AIDS dengan pembicaraan tentang akses universal dan hak asasi manusia untuk hidup berdampingan dan mendapatkan pengobatan terhadap HIV-AIDS dan kondisi/penyakit penyerta. Diharapkan masyarakat dapat menerima para penderita HIV-AIDS dengan tangan terbuka dan memberikan mereka hak yang sama dengan orang-orang yang bukan penderita. Hal ini terutama lebih terasa maknanya bagi mereka yang terkena HIV-AIDS bukan akibat perbuatannya sendiri dan yang risiko penularannya rendah sekali.</p>
<p>Yang perlu menjadi perhatian penting adalah memperkecil risiko penularan dan mengobati yang telah terkena. Kata kuncinya adalah pendidikan moral-agamis. Namun, bukan berarti semua mereka yang terkena itu adalah orang-orang yang (sebelumnya) tidak bermoral, apalagi bayi-bayi yang terlahir dari ibu penderita HIV-AIDS.</p>
<p>Memperkecil risiko penularan, antara lain, dengan sosialisasi yang gencar dan terus-menerus tentang cara-cara penularan serta pola hidup dan seks sehat. Termasuk di dalamnya melakukan universal/special precaution dengan peralatan yang memadai bagi tenaga medis dalam penanganan terhadap penderita.</p>
<p>Dapat pula memutus mata rantai HIV-AIDS, terutama terhadap bayi-bayi yang lahir dari ibu yang menderita HIV-AIDS, dengan cara screening dan pemantauan terhadap wanita-wanita yang akan menikah, hamil, atau melahirkan. Ini karena sejatinya wanita itu merupakan entry point yang luar biasa besar perannya, tapi dalam posisi bargaining yang teramat lemah.</p>
<p>Isu gender ini amat penting. Karena kecenderungan proporsi penderita wanita makin meningkat, sekalipun jumlah terbanyak penderita hingga Juni 2009 adalah laki-laki (sekitar 75 persen). Menurut Depkes RI, selama kurun 2000-2008, proporsi penderita wanita meningkat dua kali lipat, dari 10 persen menjadi 20 persen.</p>
<p>Ironis bahwa wanita (terutama wanita Jawa) terpaku dengan 3 M-nya (masak, macak, manak) dan lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga. Sementara sang laki-laki (baca: suami) yang tanpa tanggung jawab, bebas berkeliaran ke mana-mana, bertualang meninggalkan benih di mana-mana (!), termasuk benih penyakit AIDS, kemudian pulang ke rumah membawanya bagi sang istri.</p>
<p>Pola seperti itulah yang diduga turut memberi andil besar betapa cepat dan hebatnya penularan penderita di beberapa tempat, termasuk daerah Papua yang cenderung dikonotasikan masih primitif-perawan. Lain lagi bila di kota-kota besar yang terdapat banyak penularan akibat pemakaian bersama jarum suntik atau alat-alat tindik/tato bekas penderita.</p>
<p>Memantapkan Langkah</p>
<p>Ada tiga hal dalam program kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan akses dan hak asasi bagi penderita. Ketiganya diharapkan mampu memantapkan langkah bagi penderita untuk bertahan hidup dengan kualitas yang lebih baik, bahkan berkarya bersama.</p>
<p>Pertama, ketersediaan dan akses mendapatkan pengobatan. Sesungguhnya beban obat-obatan untuk penderita sangatlah mahal. Karena itu, pemerintah, baik swadana ataupun dengan bantuan dana dari luar negeri, mampu menyediakan obat-obatan yang cukup. Obat-obatan itu harus didistribusikan ke daerah-daerah terpencil yang membutuhkan, agar penderita bisa memperolehnya tanpa harus ke rumah sakit-rumah sakit atau pusat layanan kesehatan besar.</p>
<p>Kedua, kemudahan akses demi kepatuhan penderita. Misalnya, menyediakan petugas atau relawan yang rajin berkunjung ke tempat penderita untuk memotivasi dan mengingatkan penderita untuk minum obat-obatan secara teratur. Pemerintah juga harus memperbanyak tempat yang bisa dijadikan rumah singgah atau tempat penampungan bagi penderita pada kondisi tertentu dengan pengawasan tenaga medis, termasuk untuk mengendalikan risiko penularan.</p>
<p>Diharapkan juga tercipta suasana kondusif bagi penderita, baik dalam hal pencegahan penularan maupun pengobatan penyakitnya, juga kondisi/ penyakit penyerta seperti tuberkulosis, pneumoni, infeksi-infeksi sekunder lain.</p>
<p>Ketiga, ketersediaan tenaga medis atau dokter yang bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Mencurahkan beban pikiran kepada orang yang berkompeten merupakan salah satu terapi yang sangat ampuh bagi penderita. Tak hanya relawan yang bisa diajak &#8216;curhat&#8217;, namun perlu disiapkan lebih banyak lagi dokter atau tenaga medis yang mampu membangun komunikasi dan membina hubungan yang baik dengan penderita.</p>
<p>Kini sudah saatnya kita mampu hidup berdampingan dengan ODHA (orang dengan HIV-AIDS), berkarya bersama untuk hari depan bangsa yang lebih baik, dan bulatkan tekad untuk menghentikan ganasnya Sang Virus. &#8220;Stop AIDS. Keep the promise.&#8221; *). dr Sugiharto MARS, dosen, Praktisi Kesehatan dan Manajemen Rumah Sakit</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/hantu-gunung-es-hivaids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gencarnya Sosialisasi HIV/AIDS di Kendari</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/gencarnya-sosialisasi-hivaids-di-kendari/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/gencarnya-sosialisasi-hivaids-di-kendari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 08:54:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Jurnal Nasional, Desember 1, 2009
PENYEBARAN HIV di Indonesia kian mencengangkan dengan pertumbuhannya yang begitu cepat. Dalam sehari, jumlah penderita penyakit mematikan ini mencapai 7.400 orang atau rata-rata lima orang setiap menit. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sulawesi Tenggara (Sultra) Marzuki Hanafi, Senin (30/11), mengungkapkan, data tersebut merupakan data yang tercatat secara resmi. Padahal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jurnal Nasional, Desember 1, 2009</p>
<p>PENYEBARAN HIV di Indonesia kian mencengangkan dengan pertumbuhannya yang begitu cepat. Dalam sehari, jumlah penderita penyakit mematikan ini mencapai 7.400 orang atau rata-rata lima orang setiap menit. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Sulawesi Tenggara (Sultra) Marzuki Hanafi, Senin (30/11), mengungkapkan, data tersebut merupakan data yang tercatat secara resmi. Padahal, HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es dimana jumlah yang tidak terdata kemungkinan lebih banyak lagi.</p>
<p>Untuk wilayah Sultra sendiri, penyebaran penyakit ini telah mencapai 10 dari 12 kabupaten/kota. Dua kabupaten yang tidak termasuk, bukan berarti tidak ada kasus yang ditemukan, tapi pendataan yang belum pernah dilakukan oleh pemerintah daerah setempat.</p>
<p>&#8220;Hingga November 2009 ini, penderita HIV/AIDS mencapai 101 orang, yang terdiri atas 66 orang positif HIV dan 35 orang positif AIDS,&#8221; kata Marzuki dalam konferensi pers yang digelar di kantor Dinas Kesehatan Sultra terkait peringatan Hari AIDS Sedunia yang akan digelar hari ini, Selasa (1/12).</p>
<p>Sedangkan itu Kepala Dinas Kesehatan Sultra Amin Yohanes menambahkan, dari 12 kabupaten/kota di Sultra, hanya Konawe Utara dan Buton Utara yang tidak memiliki data mengenai pengidap HIV/AIDS.</p>
<p>Menurut Amin, Kota Kendari tetap menduduki urutan paling tinggi pengidap HIV/AIDS dengan jumlah penderitanya mencapai 48 orang, masing-masing 37 positif HIV dan 11 orang mengidap AIDS. Di posisi kedua disusul oleh Kabupaten Muna dengan jumlah penderita sebanyak 18 orang (tujuh HIV dan 11 AIDS).</p>
<p>Dari 101 pengidap HIV/AIDS tersebut, sebanyak 27 orang di antaranya telah meninggal. Tahun 2008 merupakan kasus kematian tertinggi yang mencapai sembilan orang dari 15 penderita AIDS.</p>
<p>&#8220;Kita juga perlu cermati perbandingan jenis kelamin para penderita. Dari data kami, laki-laki yang mengidap HIV/AIDS sebanyak 60 orang sedangkan kaum wanita sebanyak 41 orang,&#8221; kata Amin.</p>
<p>Terkait dengan peringatan Hari AIDS Sedunia yang akan diperingati di Sultra, panitia menggelar sejumlah kegiatan yang bertujuan mensosialisasikan bahaya penyakit itu dan cara menanggulanginya.</p>
<p>&#8220;Malam nanti (tadi malam) kami akan menggelar Malam Seribu Obor yang dirangkaikan dengan pentas seni dan peringatan detik-detik menjelang Hari AIDS Sedunia di pelataran eks MTQ di Kota Kendari,&#8221; kata Marzuki yang juga Ketua Panitia Pelaksana.</p>
<p>Selain itu, Dinas Kesehatan Sultra juga menggelar lomba karya tulis tentang HIV/AIDS bagi pelajar, mahasiswa, dan umum. Mereka juga menggelar jalan santai peduli AIDS, seminar sehari, khutbah Jumat, dan kebaktian Minggu dengan memasukkan materi sosialisasi penyakit AIDS kepada masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/gencarnya-sosialisasi-hivaids-di-kendari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Forum Simpul Hati Peringati Hari AIDS</title>
		<link>http://www.has2009.com/2009/12/forum-simpul-hati-peringati-hari-aids/</link>
		<comments>http://www.has2009.com/2009/12/forum-simpul-hati-peringati-hari-aids/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 08:52:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita HIV & AIDS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.has2009.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Kompas, Desember 1, 2009
Forum Simpul Hati menggelar peringatan hari AIDS sedunia di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) kawasan Padang Bulan, Medan, Senin (30/11). Acara ini diikuti oleh siswa sekolah dan organisasi kepemudaan dari lintas agama. Konsultan Anti Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) Program United Evangelical Mission (UEM), Alphinus R Kambodji, mengatakan, di tingkat Asia Tenggara, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompas, Desember 1, 2009</p>
<p>Forum Simpul Hati menggelar peringatan hari AIDS sedunia di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) kawasan Padang Bulan, Medan, Senin (30/11). Acara ini diikuti oleh siswa sekolah dan organisasi kepemudaan dari lintas agama. Konsultan Anti Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) Program United Evangelical Mission (UEM), Alphinus R Kambodji, mengatakan, di tingkat Asia Tenggara, Thailand menjadi daerah paling banyak terserang HIV. Sementara itu, serangan virus tersebut di Indonesia berpotensi muncul dari penggunaan narkotika dan obat terlarang, serta seks bebas. ”Kedua hal ini harus dikendalikan. Caranya, hentikan penggunaan narkoba dan melakukan seks bebas,” katanya. Ke depan, tutur Kambodji, hal itu berpotensi muncul dari daerah. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan masih minim di tengah terbatasnya kesejahteraan mereka. Di Sumut, salah satu daerah yang memiliki tingkat perkembangan HIV tinggi adalah Balige, Kabupaten Tapanuli Utara. (NDY)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.has2009.com/2009/12/forum-simpul-hati-peringati-hari-aids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
